TANTANGAN PANCASILA MASA KINI (JAMAN NOW)

No         : 3820175110284

Name     : Rahma Septian

Faculity : Humanities

Major     :International Relationship

Tantangan Pancasila Masa Kini

Setelah orde baru berkahir pada tahun 1998. Falsafah negara akan hilang baersama dengan tamatnya presiden suharto. Pada masa orde sepanjang kekuasaan orde baru, pancasila  hadir di setiap pidato kepala negara dan pejabatnya dan hampir tiada hari tanpa pancasila. Bahkan masyarakat indonesia setiap saat mendengarkan pidatoyang menyatakan arti penting pancasila dalam derap pembangunan pancasila. Bahkan tidak cukup dalam pidato kenegaraan, pemerintah orde baru juga melakukan pembudayaan nilai-nilai pancsila dalam berbagai program nasional pendidikan dan penataran pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila(p4).[1]

Kemudian ketika lahirnya era reformasi pada 1998. Setelah runtuhnya era orde baru lahirlah landasan baru bagi bangsa indonesia untuk berkomitmen menjadi bangsa yang demokratis, cerdas, mandiri, dan bertaqwa kepada uthan yang maha esa. Untuk menunjang cita-cita ini kemudian model pendidikan kewarganegaraan yang partisipatif dan kolaboratif  yang mengarah pada pembentukan warga negara yang keritis, aktif namun bertanggung jawab dan mengerti haq dan kewajiban mutlak di lakukan.

Pancasila Dan Keharusan Reaktualisasi

Setelah orde baru berakir pada tahun 1998. Ideologi negara pancsila seakan hilang bersamaan dengan tamatnanya pemerintahan presiden soeharto. Pada masa orde baru pancasila hadir disetiap pidato kepala negara dan bawahannya. Suasana itu berubah total setelah gerakan reformasimuncul dan mengakhiri kekuasaan orde baru. Pancasila tidak lagi menjadi jargon pembangunan. Pancasila untuk beberapa saat hilang dari sebutan elit bangsa maupun masyarakat luas. Pancasila hilang, bahkan seakan raib ditelan ingar-bingar reformasi reformasi telah melahirkan era baru bagi indonesia dimana negara dan pemerintah tak lagi menjadi sumber utama, sumber wacana dan ketaatan dalam memakai nilai-nilai pancasila dan bernegara. Lahirnya era reformasi seolah menjadi tombak pemisah antara masa lalu yang serba pancasila dan era sekarang yang tanpa pancasila. Demikian pun dengan pancasila, lahirnya era repormasi seakan menyengat kesadaran bangsa bahwa selama ini pemerintahan orde baru telah melakukan manipulasi atas pancasila. Kenyataan ini toidak bisa dipisahkan dari pengalaman kolektif warga negara indonesya yang kemudian menjadikan  Kesadaran bahwa dibalik semaraknya pendidikan dan penataran pancasila, negara ternyata pada saat yang asama melakukan tindakan-tindakan yang jauh dari nilai-nilai luhur pancasila. Tidak cukup di situ banyak kalangan menilai pemerintahan orde baru telah menghianati butir-butir nilai pancasila yang luhur.

Mengiringi reformasi pula indonesia tidak sepi dari ujian dan ancaman disintegrasi. Tepat menyusulnya era orde baru, indonesia diuji dengan lepasnya timor-timor, lalu disusul dengan gerakan aceh merdeka(GAM), dan gerakan papua merdeka yang mengamncam pisah dari NKRI. Bersamaan dengan kemunculan gerakan-gerakan sparatis ini, jatuhnya orde baru pula ditandai pula oleh berbagai komflik bernuansa primordial.baik etnik maupun agama konflik antar etnis mulai muncul di berbagai tempat kalimantan barat, disusul dengan konflik berdarah bernuansa agama di ambon dan sejumlah daerah.

Bersamaan dengan konflik-konflik ini, gelombang demokratisasi di era reformasi juga telah memunculkan kembali impian-impian politik masa lalu yang telah usang. Munculnya kembali gerakan berbasis agama yang mengusung ide ,mengganti pancasila sebagai dasar negara dengan islam yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pancasila.

Namun demikian euforia [2]demokrasi telah mengubah secara signifikan indonesia menjadi masyarakat yang terbuka dan kritis. Pancasila telah menjadikan segala hal di masa lalu yang tak bisa dipertanyakan, kini tidak sekedar dipertanayakan tapi juga digugat. Terlalu kuatnya peran negara terhadap warga negara di masa lalu berdampak sangat kontras di masa reformasi, peran negara melemah.masyarakat sendiri gemang terhadap ideologi yang muncul di era reformasi, masyarakat seperti kehilangan arah, karena sebelumnya tidak terbiasa dengan demokrasi. Pancasila yang dulu digadang gadang telah dikhianati oleh orde baru.

 

Masalah Yang Dihadapi Oleh Ideologi Pancasila

Begitu bayak masalah yang dihadapi oleh ideologi pancasila itu sendiri, dari semenjak jatuhnya era orde baru oleh era repormasi masalah yang dihadapi ideologi pancasila sangatlah banyak meluasnya KKN, konflik-konflik yang terjadi benturan benturan paham yang salah, keagamaan masysarakat dengan demokrasi tampak terlihat pada kesalah pahaman masyarakat terhadap demokrasi masih banyak dianggap sebagai ekspresi kebebasan tanpa dibarengi tanggung jawab tanpa penghormatan hak asasi orang lain, keawaman masyarakat terhadap demokrasi, gerakan gerakan radikalisme agama dengan mengusung agenda menggantikan dasar negara pancasila, tingkat korupsi yang sangat tinggi didampingi dengan(money politic), dan semagat primordial yang membonceng wacana demokrasi dan kebijakan desentralisasi alih alih mewujudkan kesejahteraan, demokrasi belum menunjukan janjinya untuk mensejahterakan rakyat. Sebaliknya demokrasi masih sebagai kosmetik politik yang bersifat prosedural dengan transaksi politik uang yang dilakukan elite politik pusat maupun lokal sebagai mesin penggeraknya.

Tantangan Globalisasi

Belum ditambah dengan tantangan globalisasi yang sekarang telah melanda dunia dan negara kita pengertian globalisasi sendiri adalah:  masuknya atau luasnya pengaruh dari suatu wilayah /negara lain dan atau proses masuknya suatu negara dalam pergaulan dunia. Kemudian mengingat globalisasi sangat berpengaruh terahadap gaya hidup bahkan edeologi negara. Globalisasi berasal dari kata Global yang artinya secara umum dan keseluruhan, secara bulat, secara garis besar bersangkut paut dan meliputi seluruh dunia. Mengglobal berarti meluas ke seluruh dunia atau mendunia, dan akhirnya menjadi globalisasi yang artinya proses masuknya ke ruang lingkup dunia.

Istilah modern berasal dari kata latin yang berarti “sekarang ini ”. Dalam pemakaiannya kata modern mengalami perkembangan, sehingga berubah menjadi sebuah istilah. Kalau sebuah ” kata” hanya mengandung makna yang relatif sempit, sedangkan sebuah ” istilah”  akan mengandung makna yang relatif lebih luas. Modern sebagai sebuah istilah dalam  masyarakat kita sudah mulai familiar, walaupun masih banyak yang verbalisme.

Istilah modern ini terutama ditujukan untuk perubahan sistem kehidupan (  dalam kontek lebih luas : peradaban ), yakni dari peradaban yang bersifat telah lama menjadi peradaban yang bersifat baru. Kapan perubahan itu mulai terjadi, agak sulit juga melacaknya. Hanya saja ada orang yang mengira, misalnya ada orang mengatakan pada zaman Renaissance gejala perubahan itu sudah kelihatan. Ada juga yang mengatakan perubahan yang drastis terjadi pada masa revolusi industri, diteruskan dengan revolusi kebudayaan. Pada negara tertentu ditandai oleh terjadinya perubahan politik yang sangat mendasar, misalnya di Uni Soviet (sekarang Rusia) apa yang disebut dengan Peresteroika dan Glasnot. Di dunia Islam, perubahan dan pembaruan terjadi setiap lahirnya seorang Nabi dan Rasul.

Sedangkan Globalisasi adalah meningkatnya saling keterkaitan di antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses ekonomi, lingkungan, politik, dan perubahan kebudayaan. Globalisasi merupakan salah satu hal yang harus dihadapi  oleh berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai anggota masyarakat dunia, Indonesia pasti tidak dapat dan tidak akan menutup diri dari pergaulan internasional, karena antara negara satu dan negara lainnya pasti terjadi saling ketergantungan.

 

Globalisasi[3] terdiri dari proses-proses yang menghubungkan orang di mana saja, sehingga menimbulkan saling ketergantungan di seluruh dunia dan ditandai dengan pergerakan orang, benda, dan ide-ide secara cepat dalam skala besar melintasi batas-batas kedaulatan. Ilmuwan politik David Held dan rekan-rekannya mendefinisikan globalisasi sebagai “perluasan, pendalaman, dan percepatan saling keterkaitan semua aspek kehidupan sosial kontemporer seluruh dunia, dari budaya sampai kriminal, keuangan sampai spiritual.”

Adapun ciri-ciri globalisasi adalah sebagai berikut:

  1. Penyebaran global komunikasi.
  2. Meningkatnya kompetensi orang biasa dan partisipasi mereka dalam politik global.
  3. Munculnya pasar global.
  4. Penyebaran budaya sekuler dan konsumeris di seluruh dunia.
  5. Munculnya bahasa inggris sebagai bahasa globalisasi.
  6. Meluasnya permintaan akan lembaga-lembaga dan norma-norma demokrasi.
  7. Jaringan antar-kelompok yang menjadi embrio masyarakat sipil global

Faktor-faktor pendorong globalisasi antara lain:

 

  1. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Diterapkannya perdagangan bebas.
  3. Meningkatnya hubungan antar Negara (Rukiyati 2008).

 

Globalisasi sendiri memiliki dampak pada percepatan penyebaran informasi, semakin mudahnya  setiap orang memenuhi kebutuhan hidup dan memberi kenyamanan dalam beraktifitas.

Globalisasi memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia, yaitu kita dapat mengambil manfaat dari globalisasi dan menerapkannya di Indonesia. Manfaat globalisasi antara lain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempermudah arus modal dari negara lain, dan meningkatkan perdagangan internasional.

Globalisasi memiliki nilai-nilai positif namun juga memiliki nilai-nilai negatif. Untuk menyaring nilai-nilai negatif maka kita harus berpedoman pada nilai-nilai Pancasila, karena nilai-nilai Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia. Jika kita mengambil nilai-nilai negatif globalisasi, maka yang akan terjadi adalah kaburnya jati diri bangsa Indonesia dan masuknya kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Pancasila sangat mungkin mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.[4] Namun demikian faktor manusia baik penguasa maupun rakyatnya, sangat menentukan dalam mengukur kemampuan sebuah ideologi dalam menyekesaikan berbagai masalah. Sebaik apapun sebuah ideologi tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang baik, hanyalah angan-angan belaka.

Pancasila sekarang dan dimasa-masa yang akan datang penting bagi paradigma ke arah pembangunan yang baik di segala bidang kehidupan. Jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia yang religius, ramah tamah, kekeluargaan dan musyawarah, serta solidaritas yang tinggi, akan mewarnai jiwa pembangunan nasional baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasannya.

 

Berikut Beberapa Permasalahan Dan Tantangan Dalam Era Moderen Dan Globalisasi:

Landasan dan pijakan bangsa Indonesia tidak lain adalah Pancasila. Jadi Pancasila dalam era globalisasi ini harus dijadikan landasan berpijak bagi kehidupan bangsa Indonesia. Globalisasi merupakan suatu proses atau bentuk di mana kelompok-kelompok masyarakat dari seluruh penjuru dunia saling mengenal, bekerja sama, berinteraksi sebagai masyarakat baru.

Tantangan yang dahulu dihadapi oleh Pancasila sebagai dasar negara, jenis dan bentuk-nya sekarang dipastikan akan semakin kompleks dikarenakan efek globalisasi. Globalisasi menurut Ahmad, M. (2006) adalah perkembangan di segala jenis kehidupan dimana batasan-batasan antar negara menjadi pudar dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berkembangnya arus informasi menjadi sebuah ciri spesifik dari terminologi globalisasi. Setiap warga negara akan semakin mudah dan bebas untuk mengakses berbagai jenis informasi dari berbagai belahan dunia manapun dalam  waktu yang sangat singkat.

Dengan perkembangan Informasi yang begitu cepat, tantangan yang diterima oleh ideologi pada saat ini juga menjadi sangat luas dan beragam. Sebagai contoh, beragamnya banyak agama di Indonesia yang terkadang menjadi alasan pemicu konflik horizontal antar umat beragama, ekonomi yang mulai berpindah dari sistim kekeluargaan (contoh: pasar tradisional) menjadi sistem kapitalisme dimana keuntungan merupakan tujuan utama, paham komunisme, liberalisme, terorisme, chauvinisme, dan sebagainya.

Jika Pancasila menentang kolonialisme, imperialism, dan kapitalisme tidaklah mengherankan kalau ia bertentangan dengan globalisme, yang tidak lain daripada kapitalisme lanjut model Amerika yang sedang berusaha menguasai dunia dalam aspek ekonomi. Neokapitalisme ini bersifat global dan sebagian besar negara sedikit banyak dikuasai, tetapi secara terpisah-pisah.

Globalisai bertentangan dengan sila ke-1 karena ia membangkitkan materialism yang menentang spiritualitas dan bangkitnya semangat eksploitatif mondial yang menggerus moral dan etika. Pada globalisasi hormat terhadap nyawa dan manusia erkurang dengan drastis demi pengejaran kesenangan duniawi dan kebahagiaan semu. Demikian pula terjadi komersialisasi agama dan berbagai aspek agama dijadikan komoditas, serta pudarnya substansi agama

Globalisasi bertentangan dengan sila ke-2. Dengan globalisasi kemanusiaan dan perikemanusiaan diganti oleh teknologi dan efisiensi, manusia menjadi using atau menjadi suku mesin-industri (teknologisasi) dan dapat dibuang setiap waktu karena tidak diperlukan lagi. Pada arus globalisasi, hak-hak manusia dan etika dilanggar jika bertentangan dengan usaha mencari laba dan kekuasaan. Globalisasi juga bertentangan dengan sila ke-3, karena hilangnya porositas batas bangsa-bangsa oleh arus bebas fakor-faktor produksi, pelenyapan tariff, tak terkendalinya arus lintas-batas informasi dan nila-nilai.

Demikian halnya dengan sila ke-4 Pancasila yang juga bertentangan karena globalisme menaikkan per-kapita nasional, tetapi menambah pula presentase orang miskin, sehngga terjadi rekonfigurasi lapisan-lapisan social-ekonomis. Globalisme menekan aspirasi rakyat suatu Negara dengan ambis-ambisi korporasi transnasional yang lebih kuat dari ambisi Negara. Globalisme menghalangi kecerdasan dan kesehatan rakyat dengan bertambah mahalnya komoditas ilmu pengetahuan dan kesehatan. Tidak hanya sampai di situ Sila ke-5 Pancasila lagi-lagi juga bertentangan dengan globalisme, karena keadilan komutatif, distributif, dan legal diperjualbelikan; konsumen tidak berhubungan langsung dengan produsen; dan system legal dibuat demi keuntungan modal;dan eksploitasi lingkungan dapat mengancam keadilan nasional, regional, internasional maupun intergenerasinal, karena hutang dan pajak lingkungan tidak dibayar.

Akibat globalisme, lingkungan kultural dan natural akan berubah melalui waktu. Pancasila akan berubah pula dan demikian pula penafsiran dan prakteknya.

 

Disamping itu era globalisasi telah memberikan tantangan terhadap nilai-nilai pancasila

 

  1. Nasionalisme dan internasionalisme

Globalisasi telah mengubah wajah negara berkembang dan indonesia pada khususnya sistem perekonomian yang dulunya sosialis men-jadi pasar terbuka. Perubahan pasar ini disebabkan oleh adanya interaksi indonesia dengan negara negara barat. Perubahan lain adalah nilai dan sikap nasionalisme globalisasi telah membuat semangat nasionalisme menurun, sebab setiap orang berusaha memaksimalkan kepuasannya dan dapat hidup dinegara maan saja berdasarkan kompetensi dan komitmennya.

  1. Budaya Barat Dan Budaya Indonesia (westrenisasi)

Pertanyaan kritis dan relvan adalah nilai-nilai apakah yang dapat disebut khas indnesia. Dari berbagai literature dan pengalaman dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara sekurang-kurangnya ada tiga konsep yang mencerminkan khas indonesia sesuai dengan nilai pancasila yaitu musyawarah, mufakat dan gotong royong. Kemudian jika demikian bagaimana kita menyablimasikan nilai-nilai khas indonesia tersebut kedalam tatanan nilai universal Dan lain sebagainya.

 

Perlunya Repormasi Ke-Dua Sebagai Restorasi/Reaktualisasi Pancasila

Mencermati gegap gempita reformasi sejumlah pandangan tentang bagaimana memosisikan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Kemudian mereka yang tidak sabar dan tidak setuju dengan demokrasi sebagai jalan terbaik dengan mudah menuduh demokrasi riberal sebagai penyebab keterpurukan indonesia. Kemudian solusi bagi persoalan ini kembali kepada nilai-nilai pancasila sebagaimana masa orde baru atau masa sebelumnya,tanpa memperinci bagaimana seharusnya pancasila di pandang dan diperlakukan di era demokrasi saat ini. Sebaliknya kelompok lain menganggap demokrasi sebagai pilihan yang tepat realitas yang tengah dihadapi indonesia saat ini dipandang wajar dalam pembelajaran berbangsa dan bernegara. Bagi kellompok ini kedudukan pancasila sebagai dasar negar atetaplah penting bagi indonesia yang majemuk, dan nilai-nilai pancasila ini dinilai sejalan dengan dengan perinsip perinsip demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), sebagai landasan etik dan pandangan bersama (common platform), pancasila secara subtantif tidak bertentangan dengan demokrasi yang menitik beratkan proses bernegara melalui mekanisme dari oleh dan untuk rakyat.

Berdasarkan keadaan yang terjadi Kemudian hingga muncullah gagasan rejuvenasi pancasila dan sejenisnya ini merupakan agenda nasional yang mendesak diwujudkan dan mengundang kalangan intelektual untuk berperan aktif kemudian sebagai etiaka-etika politik silaila-sila pancasila harus menjadi orientasi praktilk politik sehari-hari.

Hingga kemudian munculah gagasan repormasi pancasila yang berlandaskan amanat penting dalam kesadaran bahwa pancasila mengharuskan tegak dan berkuasanya hukum sehingga keadilan makin dapat menjadi kenyataan. Hal ini akan menyapu bersih merajalelanya korupsi dan berbagai hal lain yang sekarang menjadi sumber malu bagi orang indonesia. Tegaknya hukum juga menjaga agar besarnya potensi sumber daya alam dapat dimanfaatkan oleh bangsa indonesia sendiri.

Itu semua hanya akan terjadi kalau ketahanan indonesia cukup terjamin, bahwa selain kesejahteraan nasional yang mantap juga keamanan nasional yang kuat. Dengan Mkin sejahtera kehidupan rakyat, kekuatan pertahanan yang ampuh juga di bangun, TNI menjadi kekuatan militer yang harmonis baik di laut, darat, dan udara sesuai dengan luasnya wilayah NKRI dan jumlah penduduk yang terbesar ke-empat di dunia, serta perkembangan teknologi dunia.

Reformasi kedua atau restorasi pancasila [5]perlu dukungan dari seluruh rakyat indonesya untuk bersama sama menghadaapi permasalahan yang ada demi terujudnya negara yan aman, damai, sejahtera dengan berlandaskan nilai nilai pancasila yang haqiqi.

 

 

 

 

 

 

 

[1] Azra, azyumardi. Pancasila demokrasi danpencegahan korupsi. Jakarta: penerbit PRENADAMEDIA, 2015.

2 Suryohadiprojo. Mengobarkan kembali api pancasila. Jakarta:Penerbit Buku kompas,2014.

[2] Azra, azyumardi. Pancasila demokrasi danpencegahan korupsi. Jakarta: penerbit PRENADAMEDIA, 2015

[3] Suryohadiprojo. Mengobarkan kembali api pancasila. Jakarta:Penerbit Buku kompas,2014.

 

[4] 5 Hidayat, Komarudin. Pancasila, Demokrasi, Ham, Dan Masyarakat madani. Jakarta: Penerbit ICCE UIN syarif hidayatullah jakarta, 2016.

 

 

[5] Suryohadiprojo. Mengobarkan kembali api pancasila. Jakarta:Penerbit Buku kompas,2014.

6 Hidayat, Komarudin. Pancasila, Demokrasi, Ham, Dan Masyarakat madani. Jakarta: Penerbit ICCE UIN syarif hidayatullah jakarta, 2016.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s